Hakikat Pendidikan

Artikel Komentar Dinonaktifkan pada Hakikat Pendidikan

kunjungan MIPAAjaran agama Islam sangat luas dan komprehensif serta saling terkait satu dengan yang lain. Perspektif Islam tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari hakikat dan tujuan penciptaan manusia. Islam menegaskan bahwa, misi penciptaan manusia adalah untuk dan dalam rangka menunaikan misinya yang suci (risalatul insan), yakni menunaikan amanah ke-khalifah-an  di atas muka bumi. Menunaikan ke-khalifah-an berarti memimpin, mengelola, dan memelihara hidup serta kehidupan untuk mendapatkan tujuan kedamaian, keharmonisan, kesejahteraan yang merupakan wujud dari kasih sayang Allah SWT (Rahmatan Lil ‘Alamin). Allah SWT dengan tegas menyatakan misi kerisalahan manusia ini dalam Al Quran, Surah Al Baqarah: 30

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.

Dengan demikian, pendidikan dalam pandangan Islam adalah sebagai upaya yang dilakukan untuk mempersiapkan manusia agar memiliki kesadaran, kemampuan, dan tanggung jawab untuk menjalankan misi ke-khalifah-an tersebut. Hakikat pendidikan dalam pandangan Islam bertujuan mengembangkan seluruh potensi baik (fitrah) anak manusia agar mereka mampu memakmurkan kehidupan dalam tatanan hidup bersama dengan aman, damai, dan sejahtera. Dalam kongres Pendidikan Islam se dunia ke-2, tentang pendidikan Islam, yaitu:

Tujuan Pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional, dan perasaan indera. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik: aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan kedudukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.

Sumber: JSIT Indonesia